Energi bersih mejadi sesuatu yang diidam-idamkan oleh setiap negara saat ini. isu lingkungan yang sering kali terjadi ini terus bermunculan hingga belakangan ini. terakhir, terdapat kebakaran yang melanda hutan di Australia. Kebakaran yang terjadi di Australia pada awal tahun 2020 ini menelan hutan seluas 7,3 miliar hektar, melebihi kebakaran hutan Amazon dan Kalimantan pada tahun 2019 yang lalu.
Selain kebakaran hutan, penggunaan energi yang berasal dari fosil seperti bahan bakar minyak (BBM), gas bumi, dan batu bara juga menjadi salah satu permasalahan yang dapat merusak iklim sekitar. Penggunaan energi listrik yang berlebih juga menjadi permasalahan tersendiri, pembangkit listrik di dunia yang sebagian masih menggunakan solar dan batu bara juga memberikan dampak polusi yang begitu besar pada lingkungan.
Polusi menjadi alasan utama setiap negara di dunia sepakat untuk melakukan sebuah pertemuan di Paris, Perancis. Pertemuan yang dilaksanakan pertama kali pada tahun 2012 tersebut dihadiri oleh hampir seluruh negara di dunia. Dalam pertemuan tersebut, dilakukan pembahasan mengenai isu-isu lingkungan yang terjadi dan bagaimana cara untuk mengatasinya. Hingga pada akhirnya menghasilkan kesepakatan yang dinamakan Paris Agreement. Dalam kesepakatan tersebut menghasilkan bahwa setiap negara harus segera mengurangi penggunaan bahan bakar maupun kegiatan yang dapat merusak lingkungan dan segera menggunakan energi bersih.
Adanya Paris Agreement tersebut disambut baik oleh banyak pihak, mulai tahun 2012 mulai berkembang secara pesat penemuan mengenai teknologi kendaraan listrik. Jika dahulu penelitian mengenai kendaraan listrik masih dipandang sebelah mata dan tidak dipedulikan oleh pemerintah, saat ini bahkan pemerintah turut serta membantu penelitian tersebut sebagai bentuk keseriusan dalam mendukung energi bersih.
Indonesia juga menjadi salah satu negara yang mendukung adanya energi bersih tersebut. Dengan ditandatanganinya Paris Agreement tersebut menyebabkan Indonesia dibebani tanggung jawab untuk segera menyelesaikan isu-isu lingkungan yang ada. dalam perkembangannya mulai tahun 2012 hingga 2020 ini, sebenarnya Indonesia sudah melakukan beberapa perkembangan yang cukup positif.
Pertama, dalam hal pembangkit listrik sudah terdapat beberapa hal yang cukup menarik untuk dilihat perkembangannya. Sebelumnya pembangkit listrik yang ada di Indonesia masih bergantung pada beberapa sumber energi seperti solar dan uap yang berasal dari batu bara. Penggunaan solar dan batu bara jelas menggangu kesehatan iklim dan juga berdampak pada lingkungan sekitar. Tetapi saat ini mulai banyak dibangun pembangkit listrik yang diklaim ramah dengan lingkungan.
Salah satu pembangkit yang paling banyak dikenal adalah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) berbasis kincir angin yang kini sudah ada dibeberapa wilayah di Indonesia, seperti Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara. Hanya beberapa wilayah tertentu saja yang dapat dibaangun PLTB karena faktor geologis yang menyebabkan angin berhembus sepanjang tahun. Ada pula pembangkit yang menggunakan tenaga mikrohidro, panas bumi, sinar matahari dan lainnya.
Tetapi selain itu juga terdapat pengembangan pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang mulai menggunakan biodiesel untuk menghasilkan energi listrik. PLTU berbasis biodiesel menjadi primadona karena bahan bakar tersebut menjadi salah satu temuan yang terbaik di Indonesia.
Biodiesel merupakan bahan bakar minyak yang berasal dari solar dan dicampur dengan minyak nabati. Secara efektifitas pembakaran, biodiesel tidak memiliki perbedaan berarti jika dibandingkan dengan solar konvensioal, tetapi dari segi lingkungan sangat terlihat perbedaannya. Di Indonesia sendiri minyak nabati yang digunakan dalam campuran biodiesel adalah minyak kelapa sawit. Kelapa sawit menjadi pilihan utama karena Indonesia sendiri merupakan negara penghasil dan eksportir terbesar di dunia apabila membahas mengenai kelapa sawit. Sebenarnya beberapa saat lalu, perdagangan kelapa sawit mengalami penurunan yang cukup tajam, saham yang jatuh dan nilai ekspor yang rendah membuat beberapa petani kelapa sawit gulung tikar. Tetapi terjadi perubahan yang cukup signifikan ketika pemerintah melalui Kementerian ESDM mulai mengembangkan biodiesel berbasis minyak kelapa sawit.
Adanya pengembangan atas biodiesel tersebut menggugah kembali pasar kelapa sawit, mulai banyak kembali kebun kelapa sawit yang ada di beberapa pulau seperti Kalimantan dan Sumatera. Hingga pada akhir tahun 2019, pengembangan atas biodiesel sudah mencapai B30 yang akan segera dipasarkan ke seluruh Indonesia yang menyusul suksesnya B20 dipasaran. B30 dapat diartikan sebagai campuran bahan bakar minyak yang terdiri dari 30% minyak nabati dan 70% solar. Ini menjadi angin segar bagi para pengusaha dan petani kelapa sawit karena permintaan domestik atas kelapa sawit terus meningkat.
Kemudian permasalahan yang baru kembali muncul. Sebenarnya ini bukanlah masalah baru karena sudah terjadi berulangkali tanpa ada tindakan yang tegas. Dengan berkembangnya kelapa sawit di Indonesia, pembakaran lahan juga turut berkembang setiap tahunnya. Pembakaran lahan yang dilakukan untuk membuka lahan pertanian ini dilakukan karena dianggap sebagai jalan yang paling mudah dan menghemat biaya. Tetapi ini menjadi masalah karena pembakaran lahan tersebut mencemari udara yang ada dan bahkan menggangu penerbangan internasional. Lahan gambut yang dibakar dapat mengakibatkan polusi yang buruk dibanding kebakaran hutan pada umumnya. Dari pihak pemerintah daerah maupun pusat pun tidak berbuat banyak. Dari tahun ketahun selalu terjadi dan kian parah, tahun 2019 terjadi pembakaran terbesar hingga menyebabkan Singapura dan beberapa daerah di Malaysia tertutup kabut asap.
Ini menjadi sebuah contoh bahwa Indonesia masih belum siap untuk melakukan sebuah perubahan. Banyak sekali faktor yang mendasar hal tersebut seperti tingkat kesadaran akan lingkungan, kualitas SDM yang rendah, dan juga aturan hukum yang tidak ditegakkan sepenuhnya. Indonesia harus segera berbenah, melakukan hal baik tanpa harus merugikan hal lainnya. Potensi atas pengembangan energi bersih di Indonesia sangatlah besar, didukung dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia seharusnya bisa mendukung kampanye energi bersih.
Sebenarnya Kementerian ESDM sudah merencanakan program untuk menekan angka penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosil. Pemerintah menginginkan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang baurannya mencapai angka 23% pada tahun 2025. Target tersebut harus didukung oleh banyak pihak dan banyak sektor agar tercapai, terlebih diperlukan biaya yang lebih mengingat sektor EBT membutuhkan teknologi yang tinggi sehingga investasi menjadi pokok permasalahan utama. Apabila pada tahun 2025 target tersebut dapat tercapai, bukan tidak mungkin Indonesia akan lebih terbebas dari polusi yang selama ini mengganggu.